RADIOBOSSFM.COM
Take a fresh look at your lifestyle.

Budaya “Ngitung Batih” Malam Bulan Suro, Sebuah Tradisi Unik Kecamatan Dongko

RADIOBOSSFM,COM– Masyarakat Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek mempunyai suatu tradisi yang disebut upacara ngetung batih. Ngetung berarti menghitung, batih berarti anggota keluarga. Jadi ngetung batih berarti menghitung jumlah anggota keluarga, termasuk yang bertempat tinggal di luar Dongko baik yang belum menikah maupun yang sudah menikah, bahkan mereka yang sudah meninggal ikut dihitung. Anggota keluarga bagi mereka adalah hal yang penting dan ngetung batih merupakan sarana pemersatu dan perekat kekeluargaan. Budaya Ngitung Batih yang rutin di lakukan di awal Bulan Suro dalam kalender Jawa yang pada tahun ini jatuh pada Kamis (20/8/2020) malam.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin yang hadir dalam upacara adat Ngetung Batih mengatakan, budaya tidak hanya terbatas pada kesenian. Tetapi kesenian merupakan perwujudan dari keluhuran budaya. Kebudayaan sendiri berakar dari adab, jika adabnya bagus maka ke depan peradaban pasti akan baik. Maka dari itu Budaya tidak hanya terbatas pada kesenian. Tetapi kesenian merupakan perwujudan dari keluhuran budaya. Kebudayaan sendiri berakar dari adab, jika adabnya bagus maka ke depan peradaban pasti akan baik.
“Ngetung Batih ini adalah sebagian kecil dari keluhuran budaya nenek moyang kita, kita harus ingat bahwa Ngetung Batih ini memiliki rangkaian, kalau tidak salah ada adat budaya Mason, Bersih Desa di sumber air dan sebagainya, kemudian ada Baritan,” tuturnya.
“Jadi kalau sudah dibersihkan, setelah itu panennya bagus, syukuran, Baritan, setelah panen disedekahkan, mencari saudarnya Ngetung Batih,” lanjut Bupati Nur Arifin.
Pada kesempatan itu pula, Bupati juga mendukung rencana Pemerintah Kecamatan  Dongko yang ingin mendirikan sekolah budaya. Menurutnya, ke depan diharapkan akan ada tiga pusat perkembangan ekonomi, yaitu di utara ada pusat kota Trenggalek, di sisi selatan ada Watulimo dan Panggul, kemudian di tengah ada jantung kebudayaan yaitu Dongko.

 

“Karena di Trenggalek itu banyak keunikan, di sisi utara ikut pengaruh budaya Solo, di selatan sebagian ikut pengaruh budaya Jogja, kemudian sisi timur ikut pengaruh budaya Majapahitan, jadi sangat menarik,” ungkap Bupati Nur Arifin.
“Artinya apa, artinya jadi orang Trenggalek itu hatinya harus lapang, terkena pengaruh banyak budaya tetap saling menerima, maka harus dilapangkan juga rasa toleransinya dan sebagainya,” imbuhnya.
“Dan Suroan biasanya menjamas pusaka, dan pusaka yang paling benar adalah yang ditunjukkan oleh masyarakat Dongko ini, pusaka yang paling keramat adalah silaturahmi, jadi Ngetung Batih ini adalah merawat pusaka silaturahmi dan sedekah dengan saudara maupun tetangga,” jelas Bupati menambahkan.
Untuk itu, Bupati Nur Arifin berharap nilai-nilai budaya tersebut tidak luntur dan terus dirawat.
Berita Lainya