RADIOBOSSFM.COM
Take a fresh look at your lifestyle.

Larung Kepala Kerbau, Tradisi Nyadran di DAM Bagong Trenggalek

RADIOBOSSFM.COM– Memasuki Bulan Selo (dalam penanggalan Jawa), masyarakat Kelurahan Ngantru, Kecamatan/Kabupaten Trenggalek,  secara rutin menggelar tradisi Nyadran. Tradisi tersebut merupakan salah satu warisan leluhur yang turun temurun dan terus dipertahankan hingga kini. Nyadran adalah wujud dari ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Namun berbeda pada tahun ini, tradisi Nyadran digelar secara terbatas, dikarenakan masih dalam masa pandemi Covid-19. Tidak ada kegiatan arak-arakan dan ribuan masyarakat yang menyaksikan acara seperti biasanya. Kegiatan digelar secara sederhana namun tetap khidmat. Beberapa agenda yang di gelar diantarabya, Khotmil Qur’an, ziarah makam Adipati Minak Sopal, dan acara puncak yakni melarung kepala kerbau (Kebo Bule) ke Dam Bagong.
Bupati Trenggalek Moch Nur Arifin saat ziarah di makam Adipati Menak Sopal, dalam upacara Nyadran di DAM Bagong, Jum'at (3/7/2020)
Dalam kondisi dan situasi normal pada tahun-tahun sebelum pandemi, antusias masyarakat sangat tinggi untuk hadir menyaksikan tradisi Nyadran. Namun pada tahun ini, karena imbauan mematuhi protokol kesehatan yang di antaranya dilarang membuat kerumunan massa , maka hanya masyarakat sekitar saja yang ikut menyaksikan.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin yang juga hadir dalam upacara Nyadran di Dam Bagong, dalam sambutanya mengatakan, tradisi ini adalah hajat budaya kita. Nyadran Dam Bagong, sebagai bentuk syukur masyarakat di mana Allah telah telah memberikan rezeki,” tutur Nur Arifin, Jumat (3/7/2020).

“Air kita tidak kering, sawah-sawah bisa terairi, panenan lancar, kemudian masyarakat bersedekah lewat salah satunya membagikan daging kerbau kepada masyarakat sekitar,” imbuhnya.
Bupati Trenggalek Moch Nur Arifin saat menghadiri dalam upacara Nyadran di DAM Bagong, Jum'at (3/7/2020)
Bupati Arifin berharap, tradisi serta budaya yang telah mengakar di masyarakat harus terus di lestarikan. Menurutnya dengan menjaga tradisi, masyarakat akan tetap mengingat jasa-jasa para leluhur terdahulu.

“Kemudian kalau ada rezeki yang kita dapat ya kita bagikan, kita sedekahkan, seperti sedekah Nyadran di Dam Bagong ini,” pungkasnya.

Berita Lainya