Media Hiburan dan Informasi

‘LEDEK SUTIK’ Sosok Jelita Fenomenal Berdarah Seni

Ledek Sutik, penyanyi sekaligus penari yang dipuji atas paras cantiknya, semampai, kuning langsap dan sopan santun semua tindak tanduknya

Siang bolong, jalan besar yang menuju alun-alun kawedanan ramai orang lewat. Ada yang memikul, mendorong dan memanggul barang dagangannya. Semua menuju alun-alun. Kabar ada “bersih desa” (selamatan desa) dan pentas tari tayub, wayang kulit dan ketoprak sudah menyebar ke pelosok desa-desa. Bahkan warga di luar kawedanan juga mengetahui ada keramaian. Para pedagang keliling juga mendengar itu. Yang lebih menggembirakan bahwa ledek kondang Sutik ikut meramaikan bersih desa tersebut. Perbincangan ledek Sutik manggung malam nanti membuat warga antusias untuk nonton. Tidak hanya orang-orang dewasa, bahkan anak-anak kecil juga ikut memperbincangkan.

Ledek Sutik (penyanyi sekaligus penari), tidak hanya suaranya saja yang merdu, tetapi penguasaan tari, penguasaan gending, penguasaan olah vokal juga mumpuni.

Seperti gending alit, manengah, gedhe, dikuasainya. Dari tari Cokro Negoro (tari dasar), hingga tari klasik (tari putri-putri bangsawan keraton), dipahami semua. Ledek Sutik, dipuji juga atas paras cantiknya, semampai, kuning langsap, sopan santun tindak tanduknya dan peduli terhadap seniman-seniman sejawatnya yang lagi kesusahan. Bahkan para tetangganyapun bila ada kesulitan selalu dibantunya.

“Nduk, nduk, ayo bangun. Ini sudah mau dhuhur,” suara perempuan yang rambutnya sudah memutih sambil mengetuk pintu kamar.

Sutik masih menggeliat di ranjang. Dilihatlah jam tangannya, kemudian bangun dan menyandarkan pungggungnya di tembok kamar sembari kakinya selonjor. Sutik memijit-mijit kepalanya sebentar, lalu turun dari pembaringan, menghampiri meja dan minum air putih yang ada dalam gelas.

Masih dengan rambut yang awut-awutan, daster yang sudah kusut, Sutik berjalan ke dapur. Dibukalah tudung panci yang ada di meja dapur, lantas mengambil sepotong tempe goreng. Sutik mengunyah tempe goreng yang masih hangat. “Oo, rupanya kau sudah bangun,” suara perempuan tua itu sambil meletakkan bungkusan-bungkusan belanja di bangku panjang. “Pagi tadi, di pasar krempyeng, semua orang membicarakan kowe nduk, kata mereka, nanti malam kowe manggung di alun-alun to nduk,” kata perempuan tua itu lagi.

“Ya mbok, di alun-alun kawedanan,” jawab Sutik singkat dengan masih menikmati gorengan tempe. Sehabis makan tempe tiga potong, Sutik minum teh hangat yang sudah disediakan oleh perempuan tua itu. Kemudian mengambil handuk, pergi mandi.

Perempuan tua itu menanak nasi dan memasak sayur sop. Dikupasnya kentang satu persatu, juga daging sapi dipotong kecil-kecil. Sayur sop, gubis, wortel, buncis, seledri, bawang pree, kentang. Sedangkan bumbunya, bawang merah, bawang putih, mrica, pala, garam, gula dan penyedap. Setelah itu, potongan daging serta kentang dimasukkan. Sayur sop dimasak di atas kompor. Ia menunggui masakannya dengan telaten.

Pikiran perempuan tua itu melayang ke tahun-tahun silam, teringat akan awal pertemuannya dengan Sutik

Kala itu, Sutik ketemu dirinya di pinggir hutan. Sutik pulang dari “tanggapan” (pentas), diantar oleh teman lelaki dengan mengendarai mobil mewah berwarna putih. Di tengah jalan, Sutik melihat dirinya berjalan dengan miring-miring. Sutik tersentuh hatinya, dan meminta temannya meminggirkan mobil. Sutik turun dari mobil, lalu menghampiri dirinya. Sutik bertanya macam-macam. Mau kemana, dimana rumahnya, mengapa kok jalan sampai di pinggir hutan.

Dirinya mengaku dengan jujur. Tidak punya keluarga. Suaminya hilang kala ada bencana besar. Anakpun tidak punya. Tidur di gubuk reot yang ada di hutan. Sutik menawarkan untuk tinggal dengannya. Dirinya tidak menolak. Maka sejak itulah dirinya tinggal serumah bersama Sutik. Memasak, bersih-bersih rumah. Apabila mencuci dan setrika dikerjakan Sutik sendiri. Setiap hari menyediakan sarapan dan teh hangat buat Sutik. Kadang kala Sutik minta dipijat. Kepala, leher, punggung, lengan dan kaki. Sutik mengasihi dirinya, membelikan baju, jarik dan kerudung. Mengingat bapak ibu dan adik-adik Sutik tinggal di desa. Maka hanya dengan dirinya untuk bertukar pikiran. Sebaliknya, dirinya merasa ber-terimakasih kepada Sutik. Persaudaraan dirinya dan Sutik sangat tulus. Kasih sayang yang tampa pamrih. Isinya hanyalah bantu-membantu, tolong-menolong, kasih-mengasihi.

Bau sayur sop menusuk hidung, perempuan tua itu tersentak dari lamunannya. Kemudian diangkatlah panci sayur yang panas itu dengan lap dapur. Diletakkan di atas meja, nasi mengepul juga sudah siap. Pada pokoknya, sudah bisa disantap.

Malam pertama seni tari tayub digelar di alun-alun kawedanan. Ledek Sutik menari dengan gemulai

Suaranya merdu meliuk-liuk. Decak kagum penonton terhadap penampilan Sutik, membuat penonton tak bergeser sejengkalpun dari tempatnya. Lantun Sutik dalam Kutut Manggung, Kepranan, Kusumaning Ati, mengalun memenuhi udara alun-alun kawedanan. Orang-orang yang menikmati makanan di warung-warung sempat berhenti mengunyah, menunggu irama suara Sutik berhenti. Panitia, penonton dan sesama waranggono, seolah terhipnotis oleh cengkok-cengkok lantunan Sutik.

Di pojok panggung sebelah kanan, seorang wartawan memotret berkali-kali berbagai pose tari Sutik.

Bukan main malam itu. Alun-alun itu penuh ketakutan. Orang-orang senang, mereka tertawa, para pedagang melipatgandakan kekayaan mereka.

Bersih desa, merupakan perwujudan rasa syukur warga desa kepada Gusti Allah atas limpahan, kanugrahan, panen yang berlimpah. Doa diulukkan oleh tokoh agama setempat, kenduri massal dilakukan. Malam hari, masyarakat disuguhi berbagai tontonan menghibur.

Hari masih pagi, di teras depan, Sutik diwawancarai wartawan

Sutik dengan lancarnya menceritakan liku-liku perjalanan kariernya. Setelah tamat dari SMK Jurusan Tari, Sutik diajak oleh sinden terkenal untuk bergabung di sanggar. Dilatih, digembleng, dibina dan diajak manggung keliling. Dari desa ke desa, dari kabupaten satu ke kabupaten lainnya. Sutik tidak pernah menolak tawaran manggung (tanggapan). Mulai acara khitanan, perkawinan, ulang tahun sampai acara tingkat kabupaten, selalu dijalaninya. “Kan untuk memperkaya wawasan, pengalaman dan pergaulan,” ujarnya.

Terkadang tertawa panjang bila mengenang hal-hal yang menggelikan. Terkadang pula dahinya berkerut, raut mukanya serius bila mengenang hal-hal yang tidak mengenakkan pikiran. “Pernah aku jatuh terpeleset dari panggung. Pernah pula mau diajak hal-hal yang tidak pantas. Kan sebagian orang memandang sebelah mata terhadap profesi ledek, sinden, penyanyi. Namun, banyak juga yang paham, mengerti bahwa ini semua adalah pelestarian budaya tradisi. Uri-uri kabudayan,” papar Sutik.

Wedang kopi dan makanan kecil disuguhkan oleh perempuan tua. “Silahkan diunjuk kopinya mas,” Sutik mempersilahkan. Wartawan menyeruput sedikit kopi yang masih panas. Lalu asap rokok mengepul di teras depan.

Peringatan hari jadi kabupaten digelar wayang kulit semalam suntuk

Sutik bersama sinden-sinden kondang sudah berjajar di panggung bersama dalang kesohor malam itu. Gending sudah ditabuh, sarempak suara renyah para sinden mengalun. Wartawan juga duduk di kursi undangan bersama para undangan lainnya. Sutik mengangkat tangan “dada-dada” kepada wartawan. Wartawan juga membalas “dada-dada” juga. “Kau sudah jadi sinden kondang,” gumam wartawan sembari menyulut rokok. Wartawan menikmati gending-gending malam itu.

Mata wartawan senantiasa tertuju pada Sutik. Rupanya Sutik selalu menyunggingkan senyum manis, seolah membalas tatapan mata wartawan. Sesekali pandangan mata kedua anak muda itu bertemu. Namun Sutik cepat-cepat membuang pandangannya ke bawah.

Alur cerita wayang kulit malam itu sangat romantis. Yaitu saat Angga Karna memadu kasih bersama Dewi Surtikanti.

Dalang kesohor itu piawai memerankan dialog adegan asmara. Wartawan sesekali memotret. Senyum Sutik masih tersungging.

Menjelang subuh, wayang gunungan ditancapkan di tengah pakeliran (layar) oleh dalang. Tanda selesainya pagelaran wayang kulit. Wartawan berdiri dari duduknya, dan memasukkan tustel dalam tas, kemudian menghampiri Sutik. “Antarkan aku pulang ya mas,” bisik Sutik.

Sutik sudah menanggalkan busana sinden, kini mengenakan kaos berwarna putih, berjaket levis dan celana panjang biru.

Sepeda motor berjalan pelan. Terasa udara segar di sepanjang jalan. Kokok ayam jantan bersahut-sahutan. “Kita mampir cari sarapan mas,” suara Sutik yang duduk di boncengan.

Selesai

Penulis: Poedianto, Guru SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya.

Berita Lainya