Fenomena Bediding Mulai Terasa di Trenggalek, Suhu Dini Hari Turun hingga 20 Derajat Celsius

Suhu udara dini hari di sejumlah wilayah Trenggalek turun hingga 20 derajat Celsius seiring mulai terasa fenomena bediding pada awal musim kemarau 2026.

Ilustrasi suasana dingin saat fenomena bediding di Trenggalek. Suhu udara dini hari di beberapa wilayah tercatat mencapai 20°C pada awal musim kemarau 2026. (Ilustrasi: AI)

TRENGGALEK – Warga Kabupaten Trenggalek mulai merasakan udara yang lebih dingin dibanding biasanya, terutama pada malam hingga menjelang pagi hari. Berdasarkan pantauan cuaca pada Selasa (2/6/2026) sekitar pukul 03.46 WIB, suhu udara di sejumlah wilayah tercatat mengalami penurunan cukup signifikan.

Di Kecamatan Trenggalek, suhu udara terpantau berada di kisaran 22 derajat Celsius. Sementara itu, wilayah Kecamatan Kampak mencatat suhu 21 derajat Celsius dan Kecamatan Suruh menjadi salah satu daerah dengan suhu terendah, yakni mencapai 20 derajat Celsius.

Kondisi ini merupakan gejala yang lazim terjadi saat memasuki musim kemarau dan oleh masyarakat Jawa dikenal dengan istilah bediding, yaitu fenomena udara terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April hingga Juni 2026. Musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal dan cenderung lebih kering dibanding kondisi normal.

Secara meteorologis, fenomena bediding terjadi karena menguatnya angin monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering dari wilayah selatan menuju Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan kelembapan udara menurun dan tutupan awan pada malam hari berkurang.

Minimnya awan membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi setelah siang hari lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya, suhu udara menjelang dini hari hingga subuh menjadi lebih rendah dibanding biasanya.

BMKG juga menjelaskan bahwa pada awal musim kemarau, penguatan massa udara kering dari Australia mulai memengaruhi sebagian wilayah Indonesia. Fenomena ini menyebabkan cuaca cenderung cerah pada malam hari sehingga proses pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih optimal.

Meski udara dingin terasa cukup menusuk pada dini hari, suhu diperkirakan akan kembali meningkat secara bertahap setelah matahari terbit. Embun pagi juga berpotensi lebih sering muncul akibat perbedaan suhu antara malam dan pagi hari.

Masyarakat, terutama yang beraktivitas pada malam hingga pagi hari, diimbau menjaga kondisi tubuh dengan mengenakan pakaian yang lebih hangat dan memastikan asupan cairan tetap tercukupi. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia juga perlu mendapat perhatian lebih saat suhu udara menurun.

Berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.

RATECARD UMKM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

📻
RADIO BOSS
● LIVE Streaming
📻